Bhante Viriyadharo Mahathera – Vassa dan Pavarana

(Berbagai sumber dan wawancara bersama YM. Viriyadharo Mahathera)

“Bhikkhu yang telah menyepi pada tempat terpencil, yang telah menaklukan pikirannya dan memahami ajaran, menikmati kebahagiaan yang lebih dari orang lain.”

(Dhammapada 373)

“Bhikkhu yagn tenang pikirannya, tenang dalam kata-kata, dan tenang tindak tanduknya, yang telah melepaskan segala hal duniawi, sesungguhnya disebut orang yang penuh kedamaian.”

(Dhammapada 378)

SURABAYA – Vassa merupakan satu bagian penting yang harus dilakukan oleh seorang Bhikkhu dalam menjalani praktek hidup Pabbajitta. Vassa juga dilaksanakan untuk melestarikan Dhamma Vinaya yang telah diajarkan oleh Sang Buddha kepada para siswanya. Massa Vassa yang berlangsung selama 3 bulan berturut dalam setiap tahunnya ini dimulai pada saat sehari setelah berlangsungnya peringatan Hari Asadha, dimana memperingati khotbah pertama kepada Panca Vaggiya Bhikkhu yang dikenal dengan Dhammacakkapavatthana Sutta di Taman Rusa Isipatana. Masa Vassa akan berakhir pada menjelang purnama Hari Kathina.

Vassa berasal dari bahasa Pali – “Vasso” yang berarti hujan. Dalam masa Vassa  3 bulan tersebut, Seorang Bhikkhu tinggal menetap di vihara-vihara yang telah diputuskan melalui RAPIM Sangha. Para Bhikkhu sebisa mungkin tidak melakukan perjalanan jauh selama bervassa. Apabila seorang Bhikkhu memiliki suatu urusan yang mengharuskan Bhikkhu tersebut meninggalkan vihara tempat bervassa, maka Ia akan dapat meninggalkan tempat bervasa tersebut dengan tidak lebih dari 7 hari dan bertekad kembali pada hari tersebut. Saat melakukan Vassa adalah merupakan saat untuk para Bhikkhu melakukan samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan atau pandangan terang.

Tradisi Vassa ini telah ada sejak jaman Sang Buddha. Di jaman Sang Buddha sebelum ditentukannya masa Vassa, para Bhikkhu kala itu selalu mengadakan perjalanan jauh setiap musimnya. Mereka keluar masuk berjalan melalui sawah, kebun atau lading milik para petani sehingga banyak tumbuhan atau biji-bijian yang akan tumbuh serta binatang-binatang kecil mati terinjak. Hal ini menimbulkan celaan bagi Para Bhikkhu dikarenakan masyarakat mulai membanding-bandingkan dengan Pertapa lain yang menetap di suatu tempat pada saat musim hujan. Mendengar hal ini dari para Bhikkhu, Sang Buddha akhirnya menetapkan adanya masa Vassa.

Dalam Vinaya Pitaka-Mahavagga, Vassupanayika Khandaka, Buddha bersabda :

Anujanami Bhikkhave Vassam Upagantum Dve Bhikkhave Vassupanayika Purinimika Pacchimika Aparajju-gataya Asalhiya Purimika Upagatantabha

Yang artinya dimusim hujan, para bhikkhu harus bertempat tinggal disuatu tempat. Selama musim ini para bhikkhu harus mengawali dan mengakhirinya dengan sebuah upacara. Masa vassa, menurut aliran Theravada, menentukan para bhikkhu melakukan penyunyian disebuah vihara sesuai dengan aturan Vinaya. Masa ini dilakukan para bhikkhu selama 3 bulan penuh.

Upacara Masuk Vassa YM Viriyadharo Mahathera 12 Juli 2014

Berkaitan dengan peringatan Asadha dan masuk Vassa tahun ini dimana masa vassa jatuh pada tanggal 12 Juli hingga 8 Oktober 2014/2558TB, Dayaka Sabha Vihara Dhammadipa mengadakan upacara masuk Vassa YM. Viriyadharo Mahathera pada pukul 19.00 WIB. Umat-umat, upasaka upasika antusias turut mendukung lestarinya praktek Dhamma Vinaya ini. Dengan membawa persembahan serta kebutuhan para Bhikkhu selama masa Vassa, semua umat sesuai tekad niat dan kemampuan masing-masing melakukan pavarana serta bermuditta citta menyokong YM. Viriyadharo Mahathera dalam menjalankan vassa.

Pavarana menurut jangka waktunya bisa dilaksanakan selama Bhikkhu yang di sokong menjalankan hidup ke-Bhikkhuan atau selama masa vassa selama 3 bulan, tentunya semua pilihan tergantung dari masing-masing kemampuan dan tekad niat seseorang yang ingin ber-pavarana. Adapun persembahan dan kebutuhan yang biasanya dibutuhkan pada masa Vassa seperti dupa,lilin, bunga, dan alat kebutuhan Bhikkhu seperti obat-obatan,alat menjahit, dsb. Kebutuhan lain yang juga bisa dilakukan diantaranya dengan berdana makan atau berdana transportasi.

Setelah mengucapkan gatha pavarana dan menyerahkan persembahan kepada YM. Viriyadharo Mahathera, para umat mendengarkan pesan Dhamma singkat dari YM. Viriyadharo Mahathera tentang vassa, pavarana serta perbuatan baik yang sudah dilakukan oleh para umat semua. Acara kemudian ditutup dengan pemercikan tirta paritta dan pelimpahan jasa.

Besar harapan dan tekad niat baik para umat maupun para Bhikkhu yang bervassa dimanapun mereka berada. Semoga dengan bersama-sama melakukan kebajikan bagi Buddha Sasana dan Dhamma Vinaya, membuahkan sebuah perjalanan yang nantinya akan berlabuh di pantai seberang.

You might also like