Darimana Saya Harus Mulai Bila Ingin Belajar Tentang Ajaran Buddha?

Mungkin tidak semua orang mempertanyakan hal ini. Tetapi saya pribadi pernah mempertanyakan hal ini saat pertama kali tertarik mempelajari Buddha Dhamma. Kalau kita membaca dan mendengar ceramah atau buku atau artikel artikel Dhamma yang saat ini sangat mudah kita akses, maka seakan akan semua hal ini sangat rumit dan sangat luas sehingga kita hanya bisa memahami sepotong demi sepotong. Banyak hal hal baik yang dapat kita serap dalam semua penjelasan tentang Dhamma baik secara lisan maupun tulisan. Tetapi tetap saja sangat sulit memahaminya sebagai satu kesatuan. Bahkan ada keadaan dimana kita akan memahaminya secara menyimpang sesuai persepsi kita sendiri dan terkadang tidak mendekati tujuan yang benar sesuai apa yang disampaikan Sang Buddha sendiri.

Sehingga muncul kesalahan pandangan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia pada umumnya tentang ajaran Buddha yang dinilai dari perspektif pemahaman masing-masing orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang postif dan ada yang negatif dalam memandang praktek yang dilakukan oleh kelompok penganut ajaran Buddha sendiri.

Selama ini kita juga bisa melihat bahwa tidak sedikit penganut ajaran Buddha atau simpatisan Buddha yang juga tidak paham kerangka dasar ajaran Buddha. Pada umumnya hanya memiliki kepercayaan dan keyakinan terhadap Buddha saja. Sudah cukup membuat mereka berbahagia.

Bahkan dalam perkembangannya tidak sedikit orang yang beragama non Buddha juga mulai melakukan pelatihan meditasi dengan metode Buddhism berbagai aliran. Ketika mulai memahami kerangka dasar ini, mereka mampu melihat hakekat dari semua ajaran secara lebih bersih dan tidak terdistorsi oleh label dan nama.

Terkadang dikalangan umat buddhis sendiri tanpa kita sadari juga tidak paham sebenarnya bahwa 84.000 kelompok Dhamma yang terangkum dalam Tipitaka mengacu pada satu kerangka besar yang sangat sederhana. Kerangka besar ini mengacu pada kebenaran yang disampaikan pada saat pertama kali Sang Buddha membabarkannya kepada 5 pertapa di taman rusa Isipathana. Yaitu tentang 4 Kebenaran Mulia yang dibabarkan oleh Buddha Gautama sendiri kepada kelompok Sangha pertama. Dan pada saat itulah satu diantaranya mencapai tingkat kesucian arahata seketika menyadari apa yang dibabarkan Beliau.

Apa sebenarnya 4 Kebenaran yang disampaikan oleh Buddha?

  1. Kebenaran tentang realita kehidupan menurut sudut pandangan Buddha (Dukkha)
  2. Kebenaran tentang penyebab Dukkha (Tanha)
  3. Kebenaran tentang Lenyapnya Dukkha (Nirodha)
  4. Cara untuk mencapai pembebasan atau lenyapnya Dukkha (Ariya Atthanggika Magga)

Secara sederhana sebenarnya Buddha pada masa awal pencariannya mengamati bahwa semua proses disekitarnya banyak hal yang tidak selalu membahagiakan. Seperti misalnya adanya rantai makanan yang membuat hewan hewan di rantai makanan terbawah tersakiti, kemudian ketika pada usia beranjak dewasa Pangeran Siddharta mulai melihat dan mempertanyakan kenapa manusia harus mengalami proses kelahiran, usia tua, kesakitan, kesedihan dan kematian? Apakah tidak ada kemungkinan untuk bebas dari semua ini?

Berangkat dari pemiikiran seperti inilah maka kemudian Beliau memulai pencariannya sehingga mencapai pencerahan sempurna dan melihat semua proses dan realita alamiah dari semesata ini. Termasuk bagaimana semua makhluk lahir dan mati secara berulang dalam tumimbal lahir yang tidak ada ujungnya. Bagaimana secara alamiah alam kelahiran ini memiliki potensi Dukkha.

Dukkha secara umum diterjemahkan sebagai penderitaan. Ada yang menjelaskan sebagai Tidak bisa diandalkan. Tetapi sebenarnya Dukkha adalah kewajaran yang ada di dalam alam samsara (alam kelahiran).

  • Kewajaran bahwa saat seseorang mengalami proses kelahiran, maka akan ada potensi untuk proses kematian.
  • Kewajaran ketika kelahiran ini menciptakan adanya tubuh fisik dan batin, maka akan ada potensi tubuh sakit dan sehat, demikian juga saat memiliki perasaan akan memiliki potensi mengalami senang dan susah. Hal ini dikarenakan sifat dari karakter dasar batin jasmani adalah seperti ini.
  • Kewajaran dari realita alam yang selalu berubah menciptakan keadaan yang tidak bisa diandalkan dan sering menimbulkan Dukkha. Corak kehidupan yang seperti ini seringkali membuat seseorang tidak bisa menerima perubahan, berusaha mempertahankan apa yang dimiliki dan menderita karena corak kehidupan tidak sesuai apa yang diinginkannya.
  • Kewajaran ketika semua makhluk yang masih dikuasai nafsu untuk terlahirkan kembali dan mempertahankan jiwa yang kekal untuk terlahirkan kembali dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Dan karena inilah kemudaian mengalami Dukkha secara terus menerus dalam kelahiran berulang yang tiada akhir sebagai konsekuensinya.

Semua potensi Dukkha ini menurut Buddha disebabkan karena adanya Tanha. Tanha sering disebut sebagai nafsu keinginan, ada yang menyebut 3 akar kejahatan, 3 racun penderitaan, dll. Tanha memiliki 3 keadaan yaitu:

  • Lobha atau keserakahan
  • Dosa atau Kebencian
  • Moha atau kesalahan pandangan

Lobha dalam hal ini bukan hanya sebagai keserakahan, tetapi dorongan kuat untuk memegang erat karena didorong oleh rasa suka, dalam keadaan tertentu kemudian tidak mau melepaskan pegangannya. Ini sering disebut sebagai kemelekatan. Kehausanan batin jasmani untuk terus memegang apa yang disukai disebut LOBHA

Dosa seringkali dijelaskan sebagai kebencian, tetapi ketika ada rasa tidak suka sebenarnya disana ada dorongan dari dosa, penolakan batin dan jasmani terhadap apa yang tidak disukai disebut Dosa

Moha sering kali diterjemahkan sebagai kebodohan batin, juga disebut sebagai kesalahan pandangan. Semua perbuatan yang dilakukan manusia didasari oleh Konsep-konsep pemahaman tehadap apa yang dipahami berdasarkan rasa suka dan tidak suka. Sehingga kemudian menjadi sebuah konsep tentang diri yang kekal yang menjadi korban penderitaan, tentang Aku/Ego yang kekal yg tidak bisa dirubah. Karena melekat pada kesalahan pandangan inilah kemudian manusia melakukan hal bodoh yang membuat dirinya sendiri terlibat dalam penderitaan. Kesalahan pandangan yang menganggap penting hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengabaikan hal-hal baik yang bermanfaat. Sehingga menciptakan kehidupan yang semakin terpuruk dalam penderitaan yang berkepanjangan dan terperangkap dalam penderitaan yang semakin dalam.

Moha disebut sebagai kebodohan atau ketidak-tahuan. Semua makhluk tidak sadar bahwa mereka mengejar kebahagiaan semu didalam alam-alam kelahiran seperti kebahagiaan dialam manusia, atau alam kebahagiaan surga, bahkan alam kedamaian Brahma, dll. Padahal kebahagiaan dialam alam ini sifatnya sementara dan terus berubah, bahwa kehidupan dialam alam ini masih berpotensi Dukkha, bahwa kehidupan dialam ini masih dikuasai Tanha.

Dalam pencerahannya Buddha melihat ini semua masih memiliki potensi Dukkha. Bahkan kedamaian yang panjang dialam Brahma masih mengandung potensi Dukkha. Mengamati hal ini kemudian Buddha dalam proses penyelidikannya dalam meditasinya menemukan akar permasalahan dari semua potensi Dukkha ini adalah Tanha. Dan ketika pengaruh Tanha ini sudah tidak lagi tersisa, maka rantai kelahiran terputus dan Beliau mencapai Nirodha (terbebas dari Tanha) dan mencapai kebahagiaan Nibbana.

Dalam ketiga kebenaran diatas sebenarnya Sang Buddha berbagi pengetahuan tentang realita yang di temukan dalam pencerahanNya. Bahwa kehidupan dialam kelahiran (samsara) adalah berpotensi Dukkha. Dan ini disebabkan semua makhluk masih melandaskan kehidupannya pada Tanha sehingga terlahir terus dalam pusaran yang tiada habisnya. Ketika Beliau menyadari kebenaran ini seperti dijelaskan dalam Patticasamupadha, Beliau kemudian melepaskan Tanha dan mengalami kebahagiaan Nibbana.

Nibbana seringkali disebut sebagai kebahagiaan sejati, kebahagiaan tertinggi, dan lain-lain. Nibbana adalah kebahagiaan yang sudah tidak lagi berlandaskan pada Tanha. Sehingga dasar yang mendorong proses kelahiran tidak ada lagi, Tanpa kelahiran tidak ada batin jasmani, tanpa batin jasmani tidak ada penderitaan yang dialami. Tanpa penderitaan tidak ada Dukkha.

Bila kita bisa memahami ketidak-wajaran dari kewajaran yang secara keliru kita yakini seperti yang disampaikan pada ketiga kebenaran diatas, maka kita akan segera bertanya “Bagaimana caranya untuk membebaskan diri dari Dukkha dalam kehidupan ini?”

Untuk ini Buddha Gautama juga sudah menunjukkan cara untuk mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan yang mampu memahami Dhamma secara apa adanya.

Jalan menuju lenyapnya Dukkha  biasa disebut sebagai Ariya Atthanggika Magga atau Jalan Mulia Beruas Delapan. Ini adalah 8 sikap batin jasmani yang harus diterapkan pada saat kita menjalani kehidupan ini. Tujuan dari Jalan ini adalah untuk membebaskan diri kita dari Tanha (kemelekatan, kebencian dan Kesalahan pandangan)

  • Pengertian Benar
  • Pikiran Benar
  • Ucapan Benar
  • Perbuatan Benar
  • Penghidupan Benar
  • Perhatian Benar
  • Konsentrasi Benar
  • Daya Upaya Benar

Kedelapan sikap batin jasmani ini biasa dibagi dalam 3 macam pelatihan yang bisa mengarahkannya kepada tujuan yang benar dan menghasilkan kebijaksanaan.

  • Panna (Pengembangan kebijaksanaan)
  • Sila (Pengembangan kemoralan)
  • Samadhi (Pengembangan batin)

Oleh sebab itulah maka dalam segala segi kehidupan seorang penganut ajaran Buddha kemudian selalumenekankan pada ketiga pengembangan diatas. Apakah itu metode dalam kegiatan untuk sembahyang dan puja, metode dan teknik untuk pelatihan meditasi, dan metode pembelajaran.

Sehingga dengan pelatihan ini akan membentuk pola perilaku yang benar, Pola Pikir yang benar dan Sikap mental yang benar dalam rangka membersihkan diri dari Tanha dan secara pasti menuju pembebasan dan mencapai kebahagiaan sejati.

Jadi apapun yang dijelaskan dalam ajaran Buddha, kita akan menemukan garis merah menuju kepada pembebasan diri dari ikatan Tanha dan belajar memahami adanya realita Nibbana. Dalam Tipitaka ada 3 bagian Pitaka yaitu

  • Sutta Pitaka (tentang apa yang diajarkan kepada orang awam)
  • Vinaya Pitaka (aturan dalam penghidupan para bhikkhu)
  • Abhidhamma Pitaka (Tentang proses batin )

Dalam penjelasan ketiga Pitaka diatas semuanya mendukung penjelasan tentang bagaimana kita memahami Dukkha dan mengetahui bahwa Tanha menjadi penyebab penderitaan, dan dengan demikian diharapkan kita mau berjuang untuk membebaskan diri dari Tanha dengan cara mensucikan hati dan pikiran. Kemudian dengan aturan kemoralan yang membantu kita memberikan batasan, kita menata kehidupan yang mendukung pembebasan dengan memperbanyak kebaikan dan mengurangi kejahatan dalam penghidupan kita. Tujuannya tetap pada mencapai atau merealisasi kebahagiaan Nibbana. Karena inilah ajaran semua Buddha yang pernah ada di semesta alam ini.

Semoga sharing sudut pandang ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang darimana kita harus mulai belajar tentang ajaran Buddha. Dengan memahami kerangka dasar ini kita akan memahami ajaran yang lainnya secara lebih mudah dan tidak terdistorsi.

Semoga semua makhluk Berbahagia.

Sangatta, 15 April 2019

Baca Juga