Dhammapada 1 – 20, Yamaka Vagga (Syair Berpasangan)

1.
Manopubbaṅgammā dhammā Manoseṭṭhā manomayā Manasā ce paduṭṭhena Bhāsati vā karoti vā Tato naṃ dukkham anveti Cakkaṃ va vahato padaṃ

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

2.
Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā; Manasā ce pasannena, bhāsati vā karoti vā; Tato naṃ sukhamanveti, chāyāva anapāyinī

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya

3.
Akkocchi maṃ avadhi maṃ ajini maṃ ahāsi me ye ca taṃ upanayhanti veraṃ tesaṃ na sammati

Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir

4.
Akkocchi maṃ avadhi maṃ ajini maṃ ahāsi me ye ca taṃ nupanayhanti veraṃ tesūpasammati

Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir

5.
Na hi verena verāni sammantīdha kudācanaṃ averena ca sammanti esa dhammo sanantano

Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan pernah berakhir, Bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi

6.
Pare ca na vijānanti mayaṃ ettha yamāmase ye ca tattha vijānanti tato sammanti medhagā

Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa, dalam pertengkaran mereka akan binasa, tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini, akan segera mengakhiri semua pertengkaran

7.
Subhānupassiṃ viharantaṃ indriyesu asaṃvutaṃ bhojanamhi cāmattaññuṃ kusītaṃ hīnavīriyaṃ taṃ ve pasahati māro vāto rukkhaṃ va dubbalaṃ

Seseorang yang hidupnya hanya ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, malas serta tidak bersemangat, maka Mara akan menguasai dirinya. bagaikan angin yang menumbangkan pohon yang lapuk

8.
Asubhānupassiṃ viharantaṃ indriyesu susaṃvutaṃ bhojanamhi ca mattaññuṃ saddhaṃ āraddhavīriyaṃ taṃ ve nappasahati māro vāto selaṃ va pabbataṃ

Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang inderanya terkendali, yang sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat, maka Mara tidak dapat menguasai dirinya. bagaikan angin yang tidak dapata menumbangkan gunung karang

9.
Anikkasāvo kāsāvaṃ yo vatthaṃ paridahissati apeto damasaccena na so kāsāvaṃ arahati

Barang siapa yang belum bebas, dari kekotoran-kekotoran batin. yang tidak memiliki pengendalian diri, serta tidak mengerti kebenaran. sesungguhnya tidak patut, ia mengenakan jubah kuning

10.
Yo ca vantakasāvassa sīlesu susamāhito upeto damasaccena sa ve kāsāvaṃ arahati

Tetapi, ia yang telah dapat, membuang kekotoran-kekotoran batin. teguh dalam kesusilaan. memiliki pengendalian diri. serta mengerti kebenaran. maka sesungguhnya ia patut, mengenakan jubah kuning

11.
Asāre sāramatino sāre cāsāradassino te sāraṃ nādhigacchanti micchāsaṅkappagocarā

Mereka yang menganggap, ketidak-benaran sebagai kebenaran. dan kebenaran sebagai ketidak-benaran. maka mereka yang mempunyai pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat menyelami kebenaran

12.
Sārañ ca sārato ñatvā asārañ ca asārato te sāram adhigacchanti sammāsaṅkappagocarā

Mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran. dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran. maka mereka yang mempunyai pikiran benar seperti itu, akan dapat menyelami kebenaran

13.
Yathā agāraṃ ducchannaṃ vuṭṭhi samativijjhati evaṃ abhāvitaṃ cittaṃ rāgo samativijjhati

Bagaikan hujan, yang dapat menembus rumah beratap tiris. demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik

14.
Yathā agāraṃ succhannaṃ vuṭṭhi na samativijjhati evaṃ subhāvitaṃ cittaṃ rāgo na samativijjhati

Bagaikan hujan, yang tidak dapat menembus rumah beratap baik. demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik

15.
Idha socati pecca socati pāpakārī ubhayattha socati so socati so vihaññati disvā kammakiliṭṭham attano

Di dunia ini ia bersedih hati. di dunia sana ia bersedih hati. pelaku kejahatan akan bersedih hati di kedua dunia itu. ia bersedih hati dan meratap, karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih

16.
Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati so modati so pamodati disvā kammavisuddhim attano

Di dunia ini ia bergembira. di dunia sana ia bergembira. pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. ia bergembira dan bersuka cita karena, melihat perbuatannya sendiri yang bersih

17.
Idha tappati pecca tappati pāpakārī ubhayattha tappati pāpaṃ me katan ti tappati bhiyyo tappati duggatiṃ gato

Di dunia ini ia menderita. di dunia sana ia menderita. pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu. ia meratap ketika berpikir, "Aku telah berbuat jahat,", dan ia akan lebih menderita lagi, ketika berada di alam sengsara

18.
Idha nandati pecca nandati katapuñño ubhayattha nandati puññaṃ me katan ti nandati bhiyyo nandati sugatiṃ gato

Di dunia ini ia bahagia. di dunia sana ia berbahagia. pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. ia akan berbahagia ketika berpikir, "Aku telah berbuat bajik,", dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia

19.
Bahum pi ce saṃhitaṃ bhāsamāno na takkaro hoti naro pamatto gopo va gāvo gaṇayaṃ paresaṃ na bhāgavā sāmaññassa hoti

Biarpun banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai ajaran, maka orang lengah itu, sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci

20.
Appam pi ce saṃhitaṃ bhāsamāno dhammassa hoti anudhammacārī rāgañ ca dosañ ca pahāya mohaṃ sammāppajāno suvimuttacitto anupādiyāno idha vā huraṃ vā sa bhāgavā sāmaññassa hoti

Biarpun sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai ajaran, menyingkirkan nafsu indra, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun baik di sini maupun di sana, maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci

Baca Juga