Dhammapada 167 – 178, Loka Vagga (Dunia)

167.
Hīnaṃ dhammaṃ na seveyya, pamādena na saṃvase; micchādiṭṭhiṃ na seveyya, na siyā lokavaḍḍhano.

Janganlah mengejar sesuatu yang rendah, janganlah hidup dalam kelengahan. Janganlah menganut pandangan-pandangan salah, dan janganlah menjadi pendukung keduniawian.

168.
Uttiṭṭhe nappamajjeyya, dhammaṃ sucaritaṃ care; dhammacārī sukhaṃ seti, asmiṃ loke paramhi ca.

Bangun! Jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Barang siapa menempuh kehidupan benar, maka ia akan hidup bahagia di dunia maupun di dunia selanjutnya.

169.
Dhammaṃ care sucaritaṃ, na naṃ duccaritaṃ care; dhammacārī sukhaṃ seti, asmiṃ loke paramhi ca.

Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tak menempuh cara-cara jahat. Barang siapa hidup sesuai Dhamma, maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

170.
Yathā pubbuḷakaṃ passe, yathā passe marīcikaṃ; evaṃ lokaṃ avekkhantaṃ, maccurājā na passati.

Barangsiapa dapat memandang dunia ini seperti melihat busa atau seperti ia melihat fatamorgana, maka Raja Kematian tidak akan menemukan dirinya.

171.
Etha passathimaṃ lokaṃ, cittaṃ rājarathūpamaṃ; yattha bālā visīdanti, natthi saṅgo vijānataṃ.

Marilah, pandanglah dunia ini yang seperti kereta kerajaan yang penuh hiasan, yang membuat orang bodoh terlelap di dalamnya. Tetapi bagi orang yang mengetahui, maka tak ada lagi ikatan dalam dirinya.

172.
Yo ca pubbe pamajjitvā, pacchā so nappamajjati; somaṃ lokaṃ pabhāseti, abbhā muttova candimā.

Barang siapa yang sebelumnya pernah malas, tetapi kemudian tidak malas, maka ia akan menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

173.
Yassa pāpaṃ kataṃ kammaṃ, kusalena pidhīyati; somaṃ lokaṃ pabhāseti, abbhā muttova candimā.

Barang siapa meninggalkan perbuatan jahat yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat kebajikan, maka ia akan menerangi dunia ini bagai bulan yang bebas dari awan.

174.
Andhabhūto ayaṃ loko, tanukettha vipassati; sakuṇo jālamuttova, appo saggāya gacchati.

Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri, demikian pula halnya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.

175.
Haṃsādiccapathe yanti, ākāse yanti iddhiyā; nīyanti dhīrā lokamhā, jetvā māraṃ savāhiniṃ.

Kawanan angsa terbang menuju matahari, orang-orang yang memiliki kekuatan gaib terbang di udara. Orang bijaksana berjalan menuju kesucian setelah menaklukkan Mara beserta bala tentaranya.

176.
Ekaṃ dhammaṃ atītassa, musāvādissa jantuno; vitiṇṇaparalokassa, natthi pāpaṃ akāriyaṃ.

Orang yang melanggar salah satu Dhamma (sila keempat, yakni selalu berkata bohong), yang tidak memperdulikan dunia mendatang, maka tak ada kejahatan yang tidak dilakukannya.

177.
Na ve kadariyā devalokaṃ vajanti, bālā have nappasaṃsanti dānaṃ; dhīro ca dānaṃ anumodamāno, teneva so hoti sukhī parattha.

Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa. Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.

178.
Pathabyā ekarajjena, saggassa gamanena vā; sabbalokādhipaccena, sotāpattiphalaṃ varaṃ.

Ada yang lebih baik daripada kekuasaan mutlak atas bumi, daripada pergi ke surga, atau daripada memerintah seluruh dunia, yakni hasil kemuliaan dari seorang suci yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala).

You might also like