Dhammapada 383 – 423, Brahmana Vagga (Brahmana)

383.
Chinda sotaṃ parakkamma, kāme panuda brāhmaṇa; saṅkhārānaṃ khayaṃ ñatvā, akataññūsi brāhmaṇa.

O, brahmana, berusahalah dengan tekun memotong arus keinginan dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria. Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi, O, brahmana, engkau akan merealisasi nibbana, ‘Yang Tak Terciptakan’.

384.
Yadā dvayesu dhammesu, pāragū hoti brāhmaṇo; athassa sabbe saṃyogā, atthaṃ gacchanti jānato.

Bila seseorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan samadhi, maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya. Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.

385.
Yassa pāraṃ apāraṃ vā, pārāpāraṃ na vijjati; vītaddaraṃ visaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak lagi memiliki pantai sini atau pantai sana, ataupun kedua-duanya, tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

386.
Jhāyiṃ virajamāsīnaṃ, katakiccamanāsavaṃ; uttamatthamanuppattaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tekun bersemadi, bebas dari noda, tenang, telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan, bebas dari kekotoran batin dan telah mencapai tujuan akhir, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

387.
Divā tapati ādicco, rattimābhāti candimā; sannaddho khattiyo tapati, jhāyī tapati brāhmaṇo; atha sabbamahorattiṃ ‚, buddho tapati tejasā.

Matahari bersinar di waktu siang. Bulan bercahaya di waktu malam. Ksatria gemerlapan dengan seragam perangnya. Brahmana bersinar terang dalam semadi. Tetapi, Sang Buddha bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.

388.
Bāhitapāpoti brāhmaṇo, samacariyā samaṇoti vuccati; pabbājayamattano malaṃ, tasmā “pabbajito”ti vuccati.

Karena telah membuang kejahatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’, karena tingkah lakunya tenang, maka ia Kusebut seorang samana, dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin, maka ia Kusebut seorang ‘pabbajjita’ (orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga).

389.
Na brāhmaṇassa pahareyya, nāssa muñcetha brāhmaṇo; dhī brāhmaṇassa hantāraṃ, tato dhī yassa muñcati.

Janganlah seseorang memukul brahmana, juga janganlah brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya. Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul brahmana, tetapi lebih memalukan lagi adalah brahmana yang menjadi marah kepada orang yang telah memukulnya.

390.
Na brāhmaṇassetadakiñci seyyo, yadā nisedho manaso piyehi; yato yato hiṃsamano nivattati, tato tato sammatimeva dukkhaṃ.

Tak ada yang lebih baik bagi seorang ‘brahmana’ selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan. Lebih cepat ia dapat menyingkirkan itikad jahatnya, maka lebih cepat pula penderitaannya akan berakhir.

391.
Yassa kāyena vācāya, manasā natthi dukkaṭaṃ; saṃvutaṃ tīhi ṭhānehi, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat melalui badan, ucapan, dan pikiran, serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

392.
Yamhā dhammaṃ vijāneyya, sammāsambuddhadesitaṃ; sakkaccaṃ taṃ namasseyya, aggihuttaṃva brāhmaṇo.

Apabila melalui orang lain seseorang dapat mengenal Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha, maka hendaklah ia menghormati orang tersebut, seperti seseorang brahmana menghormati api sucinya.

393.
Na jaṭāhi na gottena, na jaccā hoti brāhmaṇo; yamhi saccañca dhammo ca, so sucī so ca brāhmaṇo.

Bukan karena rambut dijalin, keturunan, ataupun kelahiran, seseorang menjadi brahmana. Tetapi orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan yang pantas menjadi seorang ‘brahmana’, orang suci.

394.
Kiṃ te jaṭāhi dummedha, kiṃ te ajinasāṭiyā; abbhantaraṃ te gahanaṃ, bāhiraṃ parimajjasi.

Wahai orang bodoh, apa gunanya engkau menjalin rambutmu serta mengenakan pakaian kulit menjangan? Engkau hanya membersihkan bagian luarmu, tetapi hatimu masih penuh dengan kekotoran.

395.
Paṃsukūladharaṃ jantuṃ, kisaṃ dhamanisanthataṃ; ekaṃ vanasmiṃ jhāyantaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang mengenakan jubah kain bekas, kurus, otot-otot terlihat pada seluruh tubuhnya, bersemadi seorang diri dalam hutan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

396.
Na cāhaṃ brāhmaṇaṃ brūmi, yonijaṃ mattisambhavaṃ; bhovādi nāma so hoti, sace hoti sakiñcano; akiñcanaṃ anādānaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Aku tidak menyebutnya seorang ‘brahmana’ hanya karena ia berasal dari keluarga brahmana atau karena ia lahir dari kandungan ibu seorang brahmana. Apabila dirinya masih penuh dengan noda, maka ia hanyalah seorang brahmana karena keturunan. Tetapi orang yang tanpa noda dan telah bebas dari semua ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

397.
Sabbasaṃyojanaṃ chetvā, yo ve na paritassati; saṅgātigaṃ visaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Ia telah memotong semua belenggu, tidak lagi gemetar, yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

398.
Chetvā naddhiṃ varattañca, sandānaṃ sahanukkamaṃ. ukkhittapalighaṃ buddhaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Ia yang telah memotong sabuk kebencian, tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru serta semua kekotoran batin laten, ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang dan menyadari kebenaran, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

399.
Akkosaṃ vadhabandhañca, aduṭṭho yo titikkhati; khantībalaṃ balānīkaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan, penganiayaan, dan hukuman, yang memiliki senjata kesabaran, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

400.
Akkodhanaṃ vatavantaṃ, sīlavantaṃ anussadaṃ; dantaṃ antimasārīraṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang telah bebas dari kemarahan, taat, bajik, bebas dari nafsu keinginan, dan yang memiliki tubuh ini sebagai tubuh-akhir maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

401.
Vāri pokkharapatteva, āraggeriva sāsapo; yo na limpati ‚ kāmesu, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak lagi melekat pada kesenangan-kesenangan indria, seperti air di atas daun teratai atau seperti biji lada di ujung jarum, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

402.
Yo dukkhassa pajānāti, idheva khayamattano; pannabhāraṃ visaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Dalam dunia ini, seseorang yang telah menyadari penderitaannya sendiri, yang telah meletakkan beban dan tak terikat, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

403.
Gambhīrapaññaṃ medhāviṃ, maggāmaggassa kovidaṃ; uttamatthamanuppattaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai dan terlatih dalam membedakan jalan yang benar dan salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

404.
Asaṃsaṭṭhaṃ gahaṭṭhehi, anāgārehi cūbhayaṃ; anokasārimappicchaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Orang yang menjauhkan diri dari masyarakat umum maupun pertapa, yang mengembara tanpa tempat tinggal tertentu dan sedikit kebutuhannya, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

405.
Nidhāya daṇḍaṃ bhūtesu, tasesu thāvaresu ca; yo na hanti na ghāteti, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak lagi menganiaya makhluk-makhluk lain, baik yang kuat maupun yang lemah, yang tidak membunuh atau menganjurkan orang lain membunuh, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

406.
Aviruddhaṃ viruddhesu, attadaṇḍesu nibbutaṃ; sādānesu anādānaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Orang yang tidak membenci di antara mereka yang membenci, damai di antara mereka yang kejam, dan tidak melekat di antara yang melekat, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

407.
Yassa rāgo ca doso ca, māno makkho ca pātito; sāsaporiva āraggā, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang nafsunya, kebenciannya, kesombongannya dan kemunafikannya telah gugur, seperti biji lada yang telah jatuh dari ujung jarum maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

408.
Akakkasaṃ viññāpaniṃ, giraṃ saccamudīraye; yāya nābhisaje kañci, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang mengucapkan kata-kata halus, yang mengandung Ajaran Kebenaran, yang tidak menyinggung siapapun juga, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

409.
Yodha dīghaṃ va rassaṃ vā, aṇuṃ thūlaṃ subhāsubhaṃ; loke adinnaṃ nādiyati, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Dalam dunia ini, seseorang yang tak mengambil apa yang tidak diberikan, baik yang panjang atau yang pendek, kecil atau besar, baik ataupun buruk, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

410.
Āsā yassa na vijjanti, asmiṃ loke paramhi ca; nirāsāsaṃ visaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan terhadap dunia ini maupun dunia selanjutnya, yang telah bebas dari keinginan, dan tidak lagi melekat, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

411.
Yassālayā na vijjanti, aññāya akathaṃkathī; amatogadhamanuppattaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan lagi, yang telah bebas dari keragu-raguan karena memiliki Pengetahuan Sempurna, yang telah menyelami keadaan tanpa kematian, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

412.
Yodha puññañca pāpañca, ubho saṅgamupaccagā; asokaṃ virajaṃ suddhaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang telah mengatasi kebaikan, kejahatan dan kemelekatan, yang tidak lagi bersedih hati, tanpa noda, dan suci murni, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

413.
Candaṃva vimalaṃ suddhaṃ, vippasannamanāvilaṃ; nandībhavaparikkhīṇaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang tanpa noda, bersih, tenang, dan jernih batinnya seperti bulan purnama, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

414.
Yomaṃ palipathaṃ duggaṃ, saṃsāraṃ mohamaccagā. tiṇṇo pāragato jhāyī, anejo akathaṃkathī. anupādāya nibbuto, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan yang kotor, berbahaya dan bersifat maya, yang telah menyeberang dan mencapai ‘Pantai Seberang’, yang selalu bersemadi, tenang, dan bebas dari keragu-raguan, yang tidak terikat pada sesuatu apa pun dan telah mencapai nibbana, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

415.
Yodha kāme pahantvāna‚ anāgāro paribbaje; kāmabhavaparikkhīṇaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga dan menempuh kehidupan tanpa rumah, yang telah menghancurkan nafsu indria akan ujud yang baru, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

416.
Yodha taṇhaṃ pahantvāna, anāgāro paribbaje; taṇhābhavaparikkhīṇaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga dan menempuh kehidupan tanpa rumah, yang telah menghancurkan kemelekatan dan kerinduan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

417.
Hitvā mānusakaṃ yogaṃ, dibbaṃ yogaṃ upaccagā; sabbayogavisaṃyuttaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang telah menyingkirkan ikatan-ikatan duniawi dan juga telah mengatasi ikatan-ikatan surgawi, yang benar-benar telah bebas dari semua ikatan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

418.
Hitvā ratiñca aratiñca, sītibhūtaṃ nirūpadhiṃ; sabbalokābhibhuṃ vīraṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang telah mengatasi rasa senang dan tidak senang dengan tidak menghiraukannya lagi, yang telah menghancurkan dasar-dasar bagi perwujudan, dan juga telah mengatasi semua dunia, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

419.
Cutiṃ yo vedi sattānaṃ, upapattiñca sabbaso; asattaṃ sugataṃ buddhaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang telah memiliki pengetahuan sempurna tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk, yang telah bebas dari ikatan, telah pergi dengan baik dan telah mencapai ‘Penerangan Sempurna’, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

420.
Yassa gatiṃ na jānanti, devā gandhabbamānusā; khīṇāsavaṃ arahantaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Orang yang jejaknya tak dapat dilacak, baik oleh para dewa, gandarwa, maupun manusia, yang telah menghancurkan semua kekotoran batin dan telah mencapai kesucian (arahat), maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

421.
Yassa pure ca pacchā ca, majjhe ca natthi kiñcanaṃ; akiñcanaṃ anādānaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Orang yang tidak lagi terikat pada apa yang telah lampau, apa yang sekarang maupun yang akan datang, yang tidak memegang ataupun melekat pada apapun juga, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

422.
Usabhaṃ pavaraṃ vīraṃ, mahesiṃ vijitāvinaṃ; anejaṃ nhātakaṃ ‚ buddhaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Ia yang mulia, agung, pahlawan, pertapa agung, penakluk, orang tanpa nafsu, murni, telah mencapai penerangan, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

423.
Pubbenivāsaṃ yo vedi, saggāpāyañca passati, atho jātikkhayaṃ patto, abhiññāvosito muni; sabbavositavosānaṃ, tamahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ.

Seseorang yang mengetahui semua kehidupannya yang lampau, yang dapat melihat keadaan surga dan neraka, yang telah mencapai akhir kelahiran, telah mencapai kesempurnaan pandangan terang, suci, murni, dan sempurna kebijaksanaannya, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

You might also like