Bhante Tejapunno Mahathera – Kebahagiaan Adalah Akhir dari Penderitaan

Kebahagiaan adalah akhir dari penderitaan (Narasumber: Bhante Tejapunno Mahathera)
Sebulan Pendalaman Dhamma(SPD) ke X, 28-Apr-2019

“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri sesorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seseorang pun dapat mensucikan orang lain.” (Dhammapada, XII Atta Vagga Syair:165).

Dihari Minggu, kita masih diberi kesempatan untuk belajar Dhamma lebih banyak dari hari-hari biasanya dan untuk mengatasi problema hidup sewaktu-waktu inilah berkah utama yang bisa kita raih. Problema hidup bisa muncul setiap saat, bukan sebuah jaminan ketika kita berada ditempat suci Lobha (keserakahan), Dosa (kebencian) dan Moha (ketidaktahuan/kedelusian/kebodohan) bisa kita tinggal begitu saja. Vihara adalah tempat yang tepat untuk belajar teori dan praktek Dhamma serta menikmati hasilnya. Praktek Dhamma adalah solusi memupuk kebajikan dengan bahagia. Bahagia diseluruh waktu hidup kita.

Banyak kebajikan bisa dilakukan ketika kita terlahir menjadi manusia. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya hingga menjadi manfaat dan berguna untuk pribadi dan lingkungan sekitarnya dengan memperhatikan batin kita menjadi lebih awas dan waspada di dalam menikmati hidup. Hidup tergantung bagaimana kita mengelola waktu. Ibarat bunga bisa kita rangkai menjadi berbagai macam karangan bunga yang indah. Keindahan moral (kebajikan) bisa kita wujudkan lewat tubuh, ucapan, pikiran dalam perbuatan kita.

“Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga, demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.” (Dhammapada, VI Puppha Vagga Syair:53).

Waktu bagai anak panah yang lepas dari busur yang tiada dapat ditarik kembali, sehingga perlu pertimbangkan baik-buruk sebelum kita melakukan perbuatan lewat tubuh, ucapan dan pikiran. Perbuatan kita, ketika terlanjur terjadi maka hasil akan mengikuti sebabnya. Rasa bahagia adalah akibat dari perbuatan bijak, tiada sesal dan ragu.

Menerima kondisi adalah salah satu langkah setelah niat berubah menjadi lebih baik dengan Pedoman Dhamma dan pandangan benar dalam menjalani hidup kita. Hentikan perbuatan buruk sebagai pelampiasan jika kita melampiaskan rasa jengkel dan benci melalui perbuatan jahat, justru kita akan makin terpuruk dan terperosok dalam penderitaan.

Dhamma adalah penolong serta solusi mengatasi saat kita menerima akibat kamma buruk. Dhamma menganjurkan pola pikir yang positif dalam membenahi batin, mempelajari dan mempraktekan hal ini untuk membebaskan kita dari masalah kita. Mengenal dan menjalankan Dhamma untuk menyikapi Kamma baik atau buruk, sehingga kita bisa melakukan pengendalian diri dengan baik dan bijaksana atas hasil Kamma baik maupun buruk.

Mengingat leluhur dan berbuat kebajikan adalah hal yang tidak boleh ditunda, tidak harus menunggu cukup segalanya. Bakti dan rasa hormat adalah hal yang sangat dianjurkan sewaktu masih hidup demi manfaat pribadi dan lingkungan sekitar. Ini jalan terang menuju hidup yang bahagia.

Gunakan segala kondisi untuk berbuat baik, ketika kita memanen kita harus rajin menanam kembali. Tanamlah kembali perbuatan baik untuk menikmati kebahagiaan.

Keseimbangan dalam hidup materi dan spiritual adalah kebahagiaan sesaat untuk menjaga jasmani ini sehingga memperpanjang kesempatan untuk mampu menjalani kehidupan rohani. Hidup ini sebenarnya mudah jika kita peduli menyeimbangkan keduanya.

Buatlah bekal kebajikan sebanyaknya untuk kehidupan yang akan datang supaya lebih baik. Hargai dan manfaatkan waktu untuk mengurangi Lobha, Dosa dan Moha dengan praktek Dhamma. Jangan menunda-nunda praktek Dhamma!!!

Baca Juga