Bhante Atthadhiro Thera – Bagaimana Mengalahkan Kebencian

Bagaimana mengalahkan kebencian (Narasumber: Bhante Atthadhiro Thera)
Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD) ke XX, 08-Mei-2019

"Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan pernah berakhir, Bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi."(Dhammapada, I Yamaka Vagga Syair:5)

Perlu disadari saat ini kita masih mempunyai noda batin yang sewaktu-waktu bisa muncul. Kilesa (pengotor batin) ini bernama dosa, seumpama kita diundang ke pesta yang dihidangkan berbagai macam hidangan enak dan menarik. Ketika kita menyantap hidangan enak dan menarik, hidangan tersebut akan terasa hambar dikarenakan piring kotor.

Piring kotor bukan karena kotoran yang numpuk, tapi karena debu-debu yang melapisi perlahan.  Begitupun hati yang kotor bukan langsung kotor namun perlahan-lahan.

Banyak diantara kita hidup bercukupan tapi hidup selalu gelisah dan tidak bahagia karena menyimpan dendam kebencian. Mau makan atau tidur tidak bisa nyaman karena dosa masih melilit dihati. Untuk itu, penting sekali bagi kita untuk tidak andil dalam menyebar kebencian, agar membawa kedamaian bagi lingkungan kita.

“Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya. Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.
Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya. Jika seseorang sudah tidak menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.” (Dhammapada, I Yamaka Vagga Syair:3-4).

Kebencian bermula dari rasa tidak suka seperti kutipan Dhammapada diatas, jika tidak disadari maka kita akan menjadi anarki. Kebencian ibarat bara api yang dihembus angin, jika kita sadar, maka kita dapat memadamkan bara api atau kebencian tersebut. Jika kita diserang kita akan merasa tidak suka, dalam berkompetesi atau bersaing juga menimbulkan bibit dosa.

Cita-cita yang tak tercapai juga membuat bibit dosa dihati, frustasi membuat perasaan tidak nyaman. Isilah pikiran dengan hal-hal positif karena rasa benci membuat hati keruh yang bisa menjerumuskan diri ke alam rendah.

Dalam Sutta Anguttara Nikkaya kelompok Lima, Bait 161, Sang Buddha mengajarkan cara melenyapkan kebencian atau kekesalan yang membuat suasana tidak nyaman yakni:

“Para bhikkhu, ada lima cara ini untuk melenyapkan kebencian atau kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun. Apakah lima ini? (1) Ia harus mengembangkan cinta-kasih (Metta) terhadap orang yang kepadanya ia merasa benci atau kesal; dengan cara inilah ia harus melenyapkan kekesalan terhadap orang itu. (2) Ia harus mengembangkan belas-kasihan (Karuna) terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal; … (3) Ia harus mengembangkan keseimbangan (Uppekkha) terhadap orang yang kepadanya ia merasa kesal;… (4) Ia harus mengabaikan orang yang kepadanya ia merasa kesal dan tidak memperhatikannya;… (5) Ia harus menerapkan gagasan kepemilikan kamma pada orang yang kepadanya ia merasa kesal, sebagai berikut: ‘Yang Mulia ini adalah pemilik kammanya, pewaris kammanya; ia memiliki kamma sebagai asal-mulanya, kamma sebagai sanak-saudaranya, kamma sebagai pelindungnya; ia akan menjadi pewaris kamma apa pun yang ia lakukan, baik atau buruk.’… Ini adalah kelima cara untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun.” (Sutta AN 5.161).

Untuk menjalankan ajaran Sang Buddha mengenai cara melenyapkan kebencian, diperlukan kebijaksanaan dalam mengurai kebencian. Untuk menjadi bijaksana kita bisa dikembangkan melalui meditasi, agar membuat hati menjadi tenang dalam menghadapi semua rasa tidak suka.

Baca Juga