Vihara Dhammadipa

Artikel

Sangha Dana 2560 TB

5. November, 2016Ajaran Dhamma, ArtikelComments Off

6 November 2016

Pattidana

5. November, 2016Artikel, Liputan Acara ViharaComments Off

14-21 Agustus 2016

Dhammatalk *Oh My God, Oh My Karma*, 20 Maret 2016

2. July, 2016Liputan Acara ViharaComments Off

Vihara Dhammadipa mengadakan Dhammatalk pada hari Minggu tanggal 20 Maret 2016 di Tong Hai Restaurant Ballroom Lt.2 Golden City Mall Surabaya. Acara dihadiri sekitar 700 orang peserta dan undangan serta Bhante Viriyadharo Mahathera, Bhante Tejapunno Thera, Bhante Sukhito Thera, Bhante Sujano Thera, 6 samanera dan 6 atthasilani.

Materi yang disampaikan adalah pengertian dan pemahaman tentang hukum karma sesuai yang dijelaskan oleh guru agung Buddha Gautama oleh Bhante Thitayanno Thera dan beberapa fakta kehidupan yang berkaitan dengan karma lampau, termasuk karma dengan makhluk halus (peetha) oleh Ibu Kundha Mutiari.

Acara dimulai pukul 13.00 hingga selesai sekitar pukul 17.00.

"I Love U Buddha" dan "Semangat" oleh LSR (Light Simple Rhythm)

“I Love U Buddha” dan “Semangat” oleh LSR (Light Simple Rhythm)

Sambutan Ketua Panita Sdr. Hwan Siauw Hwie

Sambutan Ketua Panita Sdr. Hwan Siauw Hwie

Sambutan Bhante Viriyadharo Mahathera

Sambutan Bhante Viriyadharo Mahathera

Penyampaian Materi I oleh Bhante Thitayanno Thera

Penyampaian Materi I oleh Bhante Thitayanno Thera

Penyampaian Materi II oleh Ibu Kundha Mutiari

Penyampaian Materi II oleh Ibu Kundha Mutiari

"Terimalah Karmamu" dan "Hadirkan Cinta" oleh Sun School Vihara Dhammadipa

“Terimalah Karmamu” dan “Hadirkan Cinta” oleh Sun School Vihara Dhammadipa

"Maha Guru" dan "Tegar" oleh SOD (Symphony of Dhamma)

“Maha Guru” dan “Tegar” oleh SOD (Symphony of Dhamma)

Acara Lelang Benda Seni Buddhis

Acara Lelang Benda Seni Buddhis

Perayaan Magha Puja 2559 TB, 28 Februari 2016

1. July, 2016Liputan Acara Vihara, SliderComments Off

Hari Suci Magha yang jatuh pada tanggal 22 Februari 2016 dirayakan oleh Vihara Dhammadipa Surabaya pada tanggal 28 Februari 2016.

Susunan acara perayaan sbb :
1. Abhaya Dana (Fangshen) burung
2. Puja Bakti
3. Pindapata

Seusai acara diadakan terapi dan pengobatan akupuntur oleh ahli-ahli akupuntur yang tergabung dalam Perhimpunan Akupuntur Terapis Indonesia (HAKTI).

Abhaya Dana burung

Abhaya Dana burung

Amisa Puja oleh Sun School

Amisa Puja oleh Sun School

Namakara Patha oleh Bhante Viriyadharo Mahathera dan enam samanera

Namakara Patha oleh Bhante Viriyadharo Mahathera dan enam samanera

Dhammadesana Bhante Viriyadharo Mahathera

Dhammadesana Bhante Viriyadharo Mahathera

 

"Lord Buddha" dan "Maha Guru" oleh SOD (Symphony of Dhamma)

“Lord Buddha” dan “Maha Guru” oleh SOD (Symphony of Dhamma)

Pindapata kepada Bhante Viriyadharo Mahathera

Pindapata kepada Bhante Viriyadharo Mahathera

Terapi Akupuntur oleh HAKTI

Terapi Akupuntur oleh HAKTI

Perayaan Imlek 2567 dan Valentine, 14 Februari 2016

1. July, 2016Liputan Acara Vihara, SliderComments Off

Imlek 2567 Tahun Monyet Api yang jatuh pada tanggal 8 Februari 2016 dirayakan oleh Vihara Dhammadipa Surabaya pada tanggal 14 Februari 2016 bersamaan dengan momen Valentine Day. Susunan acara terdiri dari :
1. Puja Bakti
2. Penampilan Barongsai
3. Pelepasan Balon

Sementara itu di Hall Lt.2 dibuka counter-counter games bertemakan Imlek dan Valentine serta photo booth dengan Imlek background. Acara di Lt.2 juga diselingi dengan penampilan vocal group SOD (Symphony of Dhamma).

Gong Xi Fat Cai… Semoga di Tahun Monyet Api anda semua berbahagia…

Dhammadesana oleh Bhante Khemaviro

Valentine Games

Penampilan Barongsai

Pelepasan Balon dipimpin Bhante Khemaviro

Penampilan SOD (Symphony of Dhamma)

Photo Booth dengan Imlek Background

 

Ulang Tahun Vihara Dhammadipa Surabaya ke-23, 10 Januari 2016

6. May, 2016Liputan Acara Vihara, SliderOne comment

Pada tanggal 10 Januari 2016, Vihara Dhammadipa Surabaya merayakan hari jadi yang ke-23 yang jatuh pada tanggal 7 Januari 2016. Perayaan ini dihadiri 3 bhikku dan 4 samanera. Semoga para bhiku, pandhita dan umat berbahagia. Semoga selalu semangat dan semakin maju dalam dhamma. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Pembukaan – Namakara Patha

YM. Bhante Viriyadharo Mahathera, YM. Bhante Tejapunno Thera, dan YM. Bhante Kemadharo saat pembacaan Paritta

Ibu Mintra saat Memberikan Sambutan dan Sharing Mengenai Sejarah Vihara

Pemotongan kue oleh Ketua Dayaka Hwan Siauw Hwie

Penyerahan Tumpeng kepada Bhante Tejapunno Thera

Penyerahan Kue kepada Perwakilan Umat

Penyerahan Kue kepada Perwakilan Umat

Pindapata kepada Bhante Viriyadharo Mahathera, Bhante Tejapunno Thera, Bhante Khemadharo dan samanera

Pindapata kepada Bhante Viriyadharo Mahathera, Bhante Tejapunno Thera, Bhante Khemadharo dan 4 samanera

Kanker itu Lenyap

20. May, 2013Ajaran DhammaComments Off

 

Bagi kalangan umat Buddha di Bali, nama Ibu Erlina Kang Adiguna tentunya tidak asing lagi. Di samping aktif melakukan berbagai kegiatan di Vihara Buddha Sakyamuni, beliau juga sibuk mengelola usaha garmennya, “Mama & Leon”. Kesuksesan beliau dalam dunia usaha bukan muncul begitu saja, tapi berkat usahanya yang gigih dan pantang menyerah.

Ibu Erlina dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup mampu di Baturiti, Bedugul,Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sekarang beliau hidup bahagia bersama suami dan kelima anak, tiga putera dan tiga puterinya. Beliau pernah menderita sakit kanker yang sudah cukup parah dan harus dioperasi, tetapi dengan keyakinannya yang amat besar terhadap Sang Tri Ratna dan tekadnya yang kuat untuk menjadi abdi siswa Sang Bhagava, serta melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh beliau dinyatakan sembuh tanpa melalui operasi.

Inilah kisah sejati beliau yang berjuang dengan gigih untuk mengatasi sakit kanker yang dideritanya.

Awal Mulanya

Pada suatu hari di akhir tahun 1992, saya mendadak mengalami perdarahan yang serius, padahal saya telah menopause sejak dari tahun 1984. Setelah saya periksakan ke dokter di Bali, dokter itu mengatakan ada gejala benjolan di rahim saya, setelah beberapa kali saya berobat ke rumah sakit, saya kemudian tidak memperhatikannya dengan serius.

Pada tahun 1993 saya kembali mengalami sakit perut di sebelah kiri, yang terasa sakit apabila saya jongkok dan sulit untuk berdiri kembali. Akhirnya saya berangkat ke Singapura, bertemu dengan Dokter Wong, di salah satu rumah sakit di sana. Ternyata setelah diperiksa dokter mengatakan saya menderita kanker rahim, hampir stadium tiga. Saya sangat kaget, dokter lalu menganjurkan beberapa saran pengobatan, karena benjolan yang saya derita cukup besar: Sampai pada pemeriksaan yang ketiga kalinya saat saya berobat ke Singapura, Dokter Wong tetap menganjurkan saya untuk segera dioperasi saja.

Akhirnya saya nekat memutuskan untuk tidak mau dioperasi, saya pulang ke Indonesia, dan saya ingin tahu bagaimana risiko kalau orang yang kena kanker itu dikemoterapi. Saya mengunjungi Rumah Sakit Kanker di Jakarta, tidak terbayangkan bahwa penyakit yang saya derita itu sangat mengerikan, setelah saya melihat kenyataan ini, saya memutuskan untuk tidak dioperasi, tidak dikemoterapi, juga tidak makan obat. Saya siap menghadapi kenyataan ini.

Karena pada masa-masa tahun 1994 itu saya banyak sekali memiliki kegiatan dalam pengembangan Dhamma, saya melupakan sakit saya dan tidak henti-hentinya saya melakukan kebajikan dan belajar meditasi, serta mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha secara lebih mendalam, untuk menguatkan keyakinan saya bahwa Sang Tri Ratna pasti akan memberikan jalan yang terbaik bagi saya karena saya tidak percaya bisa terkena penyakit kanker, karena dalam keturunan keluarga saya tidak ada yang sakit kanker.

Pada suatu hari saya mendapat telpon dari Dokter Wong, yang mengharuskan saya untuk segera dioperasi, namun saya sudah memutuskan untuk berjuang dengan cara saya sendiri. Sakit saya semakin hari semakin bertambah, muka saya semakin pucat, perut saya semakin kaku, keluarga saya tidak tahu sama sekali, termasuk suami saya.

Kesembuhan

Pada suatu hari saya memutuskan akan bermeditasi secara kontinyu, terus-menerus selama 40 hari, setiap pagi dan sore hari. Saya tidak tahu mengapa saya mempunyai keputusan untuk bermeditasi selama 40 hari. Setiap hari saya membacakan Paritta lengkap mulai dari Namakara Gatha, Karaniya Metta Sutta, Saccakiriya Gatha dan seterusnya sampai diakhiri dengan Ettavatta. Setelah selesai membacakan Paritta Suci, saya selalu meminum tiga cangkir air yang saya persembahkan di Altar. Saya selalu berdoa,mengucapkan kata-kata yang sama, memohon untuk diberkahi jalan yang terbaik, mengucapkan janji dan tekad saya. Dan pada saat saya meminum air, saya selalu berdoa seperti ini:

1. Pertama-tama saya ambil cangkir yang di tengah, saya berdoa di hadapan Sang Bhagava, kalau memang saya harus menghadapi kematian, saya mohon Sang Bhagava memberikan jalan yang terbaik.
2. Lalu saya ambil cangkir air yang di sebelah kiri, saya berdoa; Sang Bhagava kalau saya diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan bersungguh-sungguh mendalami dan menjalankan Dhamma, Ajaran Sang Bhagava dengan baik.
3. Yang terakhir, saya mengambil cangkir yang di sebelah kanan, saya berdoa; Sang Bhagava kalau saya kini diberi kesempatan untuk tetap hidup, saya akan mengabdi menjadi siswa Sang Bhagava.

Setiap hari dengan tekun saya membaca Paritta Suci, bermeditasi dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Hingga pada hari yang ke-35, biasanya saya dari duduk untuk berdiri saja sulit, saya harus memegangi perut di sebelah kiri, baru saya bisa berdiri. Tetapi pada hari itu, pada saat bermeditasi saya mendengar sepertinya ada orang yang masuk ke dalam ruangan saya bermeditasi, seperti ada suara injakan kakinya yang sangat keras, dan sepertinya duduk di sebelah saya, suara nafasnya keras sekali, saya benar-benar takut tetapi saya tidak berani membuka mata, saya takut kalau saya sampai melihat orang itu. Beberapa menit kemudian saya mendengar orang itu meninggalkan tempat dan perlahan-lahan saya membuka mata, ternyata orang itu sudah tidak ada lagi. Saya lupa bagaimana caranya saya berdiri pada saat itu, saya lalu ke dapur dan setelah minum saya baru sadar bagaimana ya caranya saya bangun. Saya mencoba kembali duduk dan bangun kembali, saya bisa melakukannya, rasa sakit itu hilang. Saya terus melakukan meditasi selama 40 hari, di dalam hati saya berjanji akan melakukan kebajikan terus menerus dan saya selalu merasa berbahagia, dan saya tidak tahu mengapa, apa saya sudah lupa bahwa saya akan mati.

Sejak hari ke-35 itu, saya selalu bermimpi yang aneh-aneh, tetapi di dalam mimpi saya selalu berhubungan dengan para Bhikku. Di dalam mimpi itu saya naik gunung, sampai di puncak gunung saya terperosok masuk lumpur, dan saya mengucapkan “Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa” ke hadapan Sang Bhagava, dan di bawah gunung, puluhan para Bhikkhu memanggil-manggil nama saya, mendadak ada air bah yang mendorong saya sehingga saya sampai di bawah, saya diberi bungkusan oleh salah seorang Bhikkhu.

Banyak teman-teman saya selalu memimpikan saya selalu bersama para Dewa, dan keajaiban terakhir yang saya dapatkan adalah telepon dari Dokter Wong yang menanyakan keadaan saya, dokter itu menyarankan agar saya mengambil keputusan untuk dioperasi, tetapi rasa sakit di perut saya sudah berkurang, akhirnya saya putuskan untuk memeriksakan kembali penyakit saya di Singapura.

Pada tanggal 20 Februari 1995 saya berangkat bersama suami saya menuju Singapura. Namun ada satu keanehan, sejak saya berangkat ke Airport, saya merasa sangat mengantuk, begitu naik pesawat terbang saya minta kepada suami saya untuk jangan membangunkan pada saat dibagikan makanan. Begitu tidur, saya bermimpi dari Bali ke Singapura saya berjalan di atas lautan, dan di pinggir banyak sekali para Bhikkhu yang berdiri di atas lautan. Begitu mendarat di Singapura, saya dibangunkan dan saya bertanya, saya jalan apa naik pesawat, suami saya menjawab sedikit sewot, tentu saja naik pesawat masak jalan kaki katanya. Tetapi pada sore hari itu saya memutuskan, untuk bertemu dokter esok hari saja.

Pada pagi hari tanggal 22 Februari 1995 saya diperiksa oleh dokter, berkali-kali saya disuruh minum air dan diperiksa berkali-kali, sepertinya dokter itu bingung, komputernya dicek, diperiksa kalau-kalau rusak. Lalu dilihat lagi hasil-hasil pemeriksaan yang dulu; saya diperiksa lagi, kemudian saya dikirim ke Rumah Sakit lain untuk diperiksa lagi oleh satu tim dokter yang terdiri dari 5 orang dokter ahli, memeriksa saya berulang kali, sampai saya teler, kecapaian diperiksa bolak-balik, setelah itu dokter menyatakan sakit kanker saya tidak bisa ditemukan, hanya ada tanda seperti petikan buah anggur. Saya dikembalikan lagi ke Dokter Wong, beliau tidak memeriksa lagi hanya bertanya, agama saya apa, saya bengong, beliau hanya mengucapkan Amitabha dan menyuruh saya berdoa ke Vihara. Saya terkejut dan sungguh bahagia, saya bisa sembuh dari penyakit kanker, tanpa melalui operasi.

Inilah berkah Sang Buddha yang demikian besar kepada saya, sehingga saya benar-benar percaya bahwa karma itu bisa dirubah dengan cara melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh.

Karena itu tumbuhkanlah keyakinan yang kuat kepada Sang Tri Ratna, menjadi siswa Sang Buddha yang baik, melaksanakan Ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh, perbanyaklah perbuatan bajik, sucikanlah pikiran.

Saya telah berusaha menjalankan segala kebajikan, dengan materi yang saya miliki, saya pergunakan sebaik-baiknya di dunia ini, agar ada kenangan yang berarti untuk menuju kehidupan yang akan datang.

Semoga pengalaman saya ini menjadi kesaksian nyata untuk dijadikan cermin bagi saudara-saudara se-Dhamma, di dalam memperoleh kebahagiaan dengan melaksanakan Ajaran Sang Guru Agung kita, Sang Buddha Yang Maha Sempurna. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu…sadhu…sadhu.

Erlina Kang Adiguna

Denpasar, Bali.

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kanker-itu-lenyap/